1 Komentar

Obrolan di Gubuk Tua

gubukDitengah pematang sawah terdapat subuah gubuk yang biasa digunakan para petani yang sedang kelelahan menggarap sawahnya. Kebetulan hari ini pak Gimo dan pak Warno hampir bersamaan istirahat di gubuk tersebut setelah sama-sama lelah seusai menaburkan pupuk yang susah didapatkannya. Kebetulan pak Warno lebih dahulu duduk di gubuk tersebut dan sedang menikmati air putih di dalam bekas botol aqua yang dibawanya dari rumah.
Gimo; Assalamualaikum,…
Warno; Waalaikum salam,… monggo-monggo sini dik, kebetulan ini saya membawa singkong rebus, tadi disangoni ibuknya tole.
Gimo; Alhamduillah, kebetulan sekali mas, hari ini saya hanya mbawa teh pahit kesukaanku, maklum ibuknya anak-anak sedang rewang di rumah mbakyunya.

Sambil menikmati singkong rebus yang sudah dingin, keduanya melanjutkan obrolannya.
Warno; Alhamdulillah dik, meskipun sawah hanya sebahu ini kalau diopeni ya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Oh iya dik anak sampeyan yang mbarep itu kan teman sekolah anak saya di MTs to ? Sebentar lagi kan ujian, tentunya sudah mikir-mikir untuk sekolah lanjutannya to ?
Gimo; La ya itu mas, jaman sekarang ini kalau pendidikannya tidak cukup rasanya susah untuk bisa hidup layak. Beda dengan kita dulu meskipun tidak tamat SMA seperti saya ini ya masih lumayanlah meskipun kadang-kadang ya ngutang juga,….ha ha ha ha ha.
Warno; Rencananya mau melanjutkan kemana katanya dik ? anak sekarang kan sudah pinter membaca keadaan ?
Gimo; Ya itu mas, saya jadi mikir ini, maunya sih si Slamet itu pingin sekolah di SMA, katanya sih nantinya pingin kuliah, pingin jadi sarjana ekonomi. Padahal katanya sih kuliah itu biayanya besar, sedangkan saya ya cuman begini ini. Kalau putra njenengan gimana mas ?
Warno; si Bejo sih pinginnya melanjutkan ke sekolah kejuruan, jurusan mesin. Mungkin dia tertarik pada keberhasilan dik Bambang yang traktornya sering kita pakai untuk mbujul sawah kita ini. Dia kan lulusan STM jurusan mesin, sekarang rupanya cukup sukses punya tujuh traktor dan kabarnya tahun depan mau naik haji lagi. Ya mudah-mudahan lah terlaksana dan bisa bejo seperti namanya, sekalian biar nantinya cepet-cepet berumah tangga, maklum lah saya sudah pingin nimang cucu, tidak seperti saya dulu, mau berumah tangga saja takut, he he he.
Gimo; Iya mas, saya sih pinginnya seperti njenengan, praktis, yang penting hidup tidak susah dan tidak terlalu sibuk sehingga tidak lupa ibadah. Tapi mau bagaimana lagi la wong anaknya pinginnya begitu ?
Warno; Iya dik sekarang ini orangtua hanya tut wuri, yang penting kita terus ikhtiar dan tidak lupa berdoa semoga Allah selalu memudahkan jalan hidup kita dan mudah-mudahan anak-anak kita dijadikan anak-anak yang baik.
Gimo; Aamiin, iya mas kita ini bisanya ya pasrah, toh yang menentukan hidup ini kan Allah. Oh iya mas rupanya sudah hilang capek kita, mari kita melanjutkan pekerjaan kita masing-masing, terima kasih mas, ndak terasa singkong habis ini.
Warno; Alhamdulillah, terima kasih juga dik.
Gimo; Assalamualaikum,…
Warno; Waalaikum salam,…

Kedua petani tersebut meninggalkan gubuk tua dengan meninggalkan tanya dan pasrah. Akankah kita dapat menentukan hidup kita sendiri ?

One comment on “Obrolan di Gubuk Tua

  1. Teringat sewaktu aku tinggal di desa, kadang rindu ingin ke desa lagi

    http://iwanmalik.wordpress.com
    Info Pendidikan & Wirausaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: