Tinggalkan komentar

Membaca Al Qur’an

shadeRasulullah saw, bersabda : Barangsiapa membaca Al Qur’an kemudian ia menganggap ada seseorang yang diberi sesuatu yang lebih utama daripada yang diberikan kepadanya, maka iapun telah mengecualikan apa yang dibesarkan Allah Ta’ala.
Rasulullah saw, bersabda : Tidaklan ada juru syafaat yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari kiamat daripada Al Qur’an, bukan Nabi, bukan Malaikat, dan bukan lainnya.
Rasulullah saw, bersabda bahwa Allah Azza wa Jalla membaca surat Thaha dan Yaa Siin 200 tahun sebelum menciptakan mahluk. Tatkala malaikat mendengar Al Qur’an, mereka berkata : Beruntunglah umat yang diturunkan Al Qur’an ini kepada mereka, dan beruntunglah rongga tubuh yang mengandung Al Qur’an ini serta beruntung pula lisan yang membacanya.

Ketahuilah bahwa membaca Al Qur’an itu adalah ibadah yang paling afdhal. Dan waktu membacanya yang paling afdhal adalah ketika shalat. Adapun membaca Al Qur’an diluar shalat, maka waktu yang paling afdhal adalah pada malam hari, waktu separuh malam terakhir lebih afdhal daripada awalnya. Sedangkan membaca antara Maghrib dan Isya’ lebih disukai oleh kebanyakan orang.

Seyogyanya orang yang membaca Al Qur’an berpegang teguh dengan beberapa tata kesopanan atau adab membaca Al Qur’an. Diantaranya :
1. Ikhlas ketika membacanya, hanya karena Allah semata, tidak dijadikan sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan.
2. Berpegang teguh dengan memelihara adab terhadap Al Qur’an.
3. Dengan sepenuh hati ia munajat kepada Allah SWT.
4. Ia membaca Al Qur’an dalam keadaan sebagai orang yang memandang kepada Allah. Jika ia tidak dapat, Allah-lah yang selalu memandang kepadanya.

Ada beberapa hadis yang menjelaskan bahwa menyaringkan suara ketika membaca Al Qur’an lebih afdhal daripada membacanya dengan berbisik-bisik. Ada lagi beberapa hadis menerangkan kebalikannya. Lalu para ulama mencari jalan keluar dari dua keterangan yang saling berlawanan ini. Mereka mengatakan membaca dengan berbisik-bisik lebih afdhal apabila dikhawatirkan timbul perasaan riya’. Apabila tidak dikhawatirkan demikian, menyaringkan suara ketika membaca Al Qur’an lebih afdhal, asalkan jangan mengganggu orang lain yang sedang shalat, sedang tidur, atau lainnya.
Keterangan tentang keutamaan menyaringkan suara ialah bahwa membaca Al Qur’an merupakan amalan terbesar dan manfaatnya bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk orang lain.
Membacanya dengan suara nyaring, dapat membangunkan hatinya yang lalai, membangkitkan gairah agar menggunakan akal pikiran, memalingkan pendengarannya hanya kepada Al Qur’an, menolak perasaan ingin tidur dan mengembalikan semangat. Manfaatnya untuk orang lain, dapat membangunkan orang yang tidur yang sudah semestinya bangun, orang yang lalai, dan membangkitkan semangat orang yang mendengarkannya.

Disunnahkan memperindah suara ketika membaca Al Qur’an asalkan jangan sampai keluar dari batas-batas qira’ah, dengan memanjangkan kelewat batas misalnya. Jika membacanya melewati batas sampai-sampai menambah huruf atau mengurangi huruf, haram hukumnya. Tentang keindahan suara ketika membaca Al Qur’an, sungguh banyak hadis yang dapat kita temukan.

RENUNGAN

Sebaiknya dalam membaca Al Qur’an, seseorang dalam keadaan berwudhu dan bersikap sopan berdiri atau duduk, yang paling utama adalah membacanya di waktu shalat sambil berdiri.

Imam Malik, Abu Hanifah dan Syafi’I berpendapat bahwa thaharah (wudhu) merupakan syarat menyentuh (memegang) mushaf al qur’an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: