Tinggalkan komentar

Menyentuh Kulit Istri Antara Batal Wudhu dan Tidak

Menyentuh kulit istri sehubungan dengan batal wudhu, ada pendapat yang lebih kuat, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa menyentuh kulit istri itu membatalkan wudhu. Sumber keterangannya diambil dari kitab “Majmu’ Ala Muhadzdzab” jilid II, halaman 31-33, yang artinya :

Dalil sebagian ulama yang mengatakan bahwa menyentuh kulit istri itu tidak membatalkan wudhu adalah sebuah hadist Hubaib bin Abu Tsabit yang bersumber dari Urwah, dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw pada suatu ketika penah mencium salah satu istrinya kemudian berangkat mengerjakan shalat dan tanpa mengulangi wudhu kembali. Dan sebuah hadist yang bersumber dari Abu Rauf dari Ibrahin At Aimi, dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw pada suatu ketika pernah mencium (salah satu istinya) setelah berwudhu kemudian tidak mengulangi wudhu (selanjutnya beliau mengerjakan shalat). Juga sebuah hadist yang bersumber  dari Aisyah ra, bahwa pada suatu ketika pernah tangan Aisyah memegang kaki Rasulullah saw sewaktu beliau sedang sujud.

Sementara murid-murid Imam Syafi’i , berkenaan dengan firman Allah yang berbunyi :

أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ

Mengatakan bahwa اللمس  itu bisa diartikan sebagai menyentuh dengan tangan. Menurut ulama lughat (pakar bahasa) bahwa lafadz اللمس  itu bisa diartikan sebagai menyentuh dengan tangan atau dengan anggota selain tangan, dan bisa juga diartikan sebagai bersetubuh. Sementara Imam Malik, Imam Syafi’i , dan para muridnya masing-masing mengacu dalil sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Malik bersumber dari Syihab, dari Salim bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, katanya : Mencium ataupun meraba istrinya, maka dia wajib berwudhu. Ini adalah sebuah hadist isnad (jalur)-nya cukup shahih sebagai yang diketahui. Adapun untuk menyanggah pendapat ulama yang berpegang pada hadist riwayat Hubaib bin Tsabit, adalah ada dua jawaban :

Jawaban yang pertama, ini adalah yang paling populer bahwa hadist tersebut adalah hadist dhaif (lemah) menurut kesepakatan Huffadz.

Jawaban yang kedua, jikapun hadist tersebut adalah hadist yang shahih, maka harus diartikan mencium istri yang menggunakan cadar muka, mengingat mengkompromikan dengan beberapa dalil yang lain.

Wallahu a’lam

Sumber : Dokmen Penting tentang Masalah Agama Islam (KH Manshur Shaleh)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: