Tinggalkan komentar

Macam-macam Pelaksanaan Shalat Witir

Tata Cara Witir

Menurut Malik, minimal 3 (tiga) rakaat dengan dua kali salam.

Menurut Abu Hanifah, minimal 3 (tiga) rakaat dengan sekali salam.

Menurut Asy-Syafi’i, minimal 1 (satu) rakaat dengan sekali salam.

Tiap-tiap pendapat tersebut pernah dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in.

Waktu Shalat Witir

Ibnu Mundzir menyebutkan lima pendapat ulama tentang waktu witir :

  1. Kesepakatan ulama, setelah shalat Iaya’ sampai terbit fajar.
  2. Pendapat Asy-Syafi’i, Malik, dan Ahmad, boleh dikerjakan setelah tiba waktu Subuh selama belum melakukan shalat Subuh.
  3. Pendapat Thawus, boleh dikerjakan walaupun telah melakukan shalat Subuh, selama waktu subuh belum habis.
  4. Pendapat Abu Tsur dan Al Auza’i, boleh dilakukan walaupun matahri telah terbit.
  5. Pendapat Sa’id bin Zubair, boleh diqadha’ pada malam berikutnya.

Qunut di Dalam Witir

Pendapat Abu Hanifah dan pengikutnya, bahwa witir memakai qunut.

Pendapat Malik, bahwa witir tanpa qunut.

Pendapat Asy-Syafi’i (salah satu pendapatnya), adalah bahwa witir memakai qunut pada separo yang terakhir di bulan Ramadhan.

Pendapat sebagian ulama, bahwa witir memakai qunut pada separo yang awal di bulan Ramadhan.

Pendapat sebagian lagi, bahwa witir memakai qunut selama bulan Ramadhan.

Pengulangan Shalat Witir

Orang yang telah melakukan witir lalu tidur, kemudian bangun hendak melakukan shalat sunnah lagi, menurut mayoritas ulama, tidak perlu witir lagi, yakni shalat yang dilakukan setelah bangun tidur tersebut cukup dua rakaat dua rakaat. Ini berdasarkan sabda Nabi saw. : Tidak ada dua kali witir dalam satu malam. (HR Abu Dawud)

Menurut sebagian ulama, bilangan ganjil sebelum tidur tersebut tidak berlaku apabila sesudah bangun tidur shalat sunnah lagi dua rakaat dua rakaat karena diganjilkan dengan witir lagi. Pendapat ini lemah, karena ; Pertama, witir yang telah dijalani sebelum tidur tersebut tidak bisa dilebur menjadi genap. Kedua, melakukan witir lagi yang kedua kalinya tidak ada dasarnya dalam syara’.

Pendapat yang mengharuskan witir lagi berdasar pada pemikiran akal, sedangkan pendapat jumhur yang tidak mengharuskan witir lagi berdasar pada nash hadist.

Sumber : Kitab Bidayatul Mujtahid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: